Meski disebut “tukang sulap”, nyatalah Edison sebuah contoh bahwa untuk meraih hasil yang spektakuler, dibutuhkan kesabaran, keuletan, dan kerja keras. Tak ada sesuatu yang bisa diciptakan dengan simsalabim belaka. Selain itu, si cacat rungu yang memegang rekor jumlah penemuan ilmiah ini juga menunjukkan, sesuatu yang terlihat buruk di masa lalu, bisa cemerlang di masa depan. Suatu sore di bulan Desember 1877, para karyawan sebuah laboraorium di Menlo Park, New Jersey, AS, terkesima memperhatikan sebuah mesin yang mengeluarkan suara bila tuasnya diputar. Kemudian keheningan pecah, diganti sorak-sorai.
Ironis memang, fonograf - cikal bakal alat industri rekaman – itu justru ditemukan oleh seorang tuna rungu. Thomas Alfa Edison, yang penemuannya baru saja membuat orang terkesima, hanya dapat membaca kehebohan itu secara visual tanpa bisa mendengarkan.
Temuan Edison yang amat beraneka selalu memiliki manfaat praktis yang besar. Demikian kretifnya Edison, sehingga sampai kini ia pemegang rekor dunia jumlah hak paten. Total ada 1.093 buah paten tercatat atas namanya. Yang terbanyak untuk lampu dan tenaga listrik.
Edison berotak udang?
Bila ditarik ke belakang, masa ketika ia dilahirkan amat jauh berbeda dari dunia hiruk-pikuk masa kini. Tokoh yang sering disebut-sebut sebagai penemu terbesar di dunia ini lahir di kota kecil Milan, Ohio,11 februari 1847. Orang tuanya, Samuel Edison Jr. dan Nancy Elliot Edison, berasal dari Kanada. Dari tujuh anak, hanya empat yang hidup tapi Edison bungsu asli.
Ketika Edison berusia tujuh tahun, ayahnya mendapat pekerjaan sebagai penunggu mercu suar sekaligus tukang kayu di Benteng Gratiot, dekat port Huron, Michigan. Di situlah Edison mengenal bangku sekolah.
Sebuah sumber mengatakan, Edison kecil sebenarnya Cuma tiga bulan duduk di bangku sekolah. Masalahnya, ibunya kesal, Edison yang amat kritis dan gemar bertanya itu disebut oleh gurunya “berotak udang”. Maka Nancy Edison memutuskan mendidik sendiri anaknya yang cerdas itu di rumah. Apalagi ia juga punya latar belakang guru.
Sumber lain menduga, system pengajaran masa itu, yang amat mementingkan hafalan, kurang cocok bagi si kecil Edison yang cacat rungu. Tak heran bila ia dianggap bodoh oleh sang guru. Untung ia memiliki ibu bijak.
Edison yang haus ilmu melahap buku apa saja yang diberikan. Suatu saat, usai mempelajari School of Natural Philosophy karya R.G. Parker (isinya petunjuk praktis untuk melakukan eksperimen di rumah) dan The Dictionary of Scene, anak dan ibu memutuskan membuat laboratorium kecil-kecilan di rumah. Di sinilah karier Edison sebagai penemu berawal.
Namun, seperti umumnya kesah legenda, ada versi lain menyangkut asal-usul cacat rungu Edison. Hobi buku dan eksperimen menuntut dana tambahan yang lumayan. Dengan konsisi ekonomi ayahnya yang tak berlebihan, saat berusia 12 tahun, Edison bekerja sebagai pengasong Koran di kereta api Grand Trunk Railway rute Port Huran – Detroit. Selain Koran, ia juga menjajakan majalah, permen dan eau de cologne.
Suatu hari sekitar tiga tahun kemudian, keretanya sudah beranjak saat ia tiba di stasiun. Ia nyaris gagal melompat ke gerbang, kalau saja tidak ada seseorang yang menagkapnya pada telinganya. Setelah itu, pendengarannya mulai lemah. Namun, sumber lain yang percaya ia sudah mulai tuli sejak kecil, mengaitkan ketuliannya dengan penyakit mastoidistis (radang telinga bawaan).
Anak kecil, langkahnya besar
Antara 1861 – 1863, pecah Perang Saudara di Amerika. Pertempuran hebat berkobar di Shiloh, Tennessee, 6 – 7 April 1862. Edison tahu, perang ini peluang emas bagi penjaja koran,asalkan tahu bagaimana menggunakannya. Tanpa pikir panjang, ia menerjang ruang telegraf di stasiun Detroit untuk minta tolong kepada petugas telegrafis agar mengirim berita pecahnya perang di Shiloh ke semua stasiun di sepanjang rute KA yang akan dilewati. Sebagai imbalannya, ia akan memberikan satu Koran dan satu majalah gratis selama enam bulan kepada si petugas. Tanpa menunggu jawaban, Edison segera ngacir ke agen Koran. Kalau biasanya ia hanya mengambil 200 eksemplar, kali itu 1.500! Benar saja. Keuntungannya amat mengagumkan. Kalaupun keilmuwanannya sebagai penemu belum tumbuh, bakat kewirausahaannya sudah tampak.
Itu diawali ketika setahun kemudian, kegemarannya pada telegraf membawanya pada pekerjaan baru sebagai telegrafis. Bakatnya sebagai penemu mulai diasah untuk mengatasi tantangan profesi. Mulainya, berita-berita telegrafi dikirim berupa titik dan grafis dalam kode Morse. Lama-kelamaan mesin penerima telegram menyampaiakn berita dengan bunyi. Sudah tentu, ini merepotkan Edison. Untuk menutup keterbatasan pendengarannya, selama enam tahun kariernya sebagai telegrafis, ia dipaksa untuk terus menyempurnakan pesawat telegrafi sambil menemukan pelbagai cara pemecahan masalah teknis yang timbul gara-gara ketuliannya.
Setelah bertahun-tahun bereksperimen, Januari 1869 ia mencapai kemajuan yang lumayan dalam menciptakan pesawat telegrafi dupleks, yang mampu mentransmisikan dua berita sekaligus pada satu kabel, berikut printer-nya (untuk mengonversikan sinyal listrik menjadi huruf). Edison kemusian mengambil langkah besar. Pada usia baru 21 tahun, ia memutuskan beralih profesi jadi investor penuh. Tahun itu juga (1869) ia hijrah ke New York City.
Puncak kreativitas
Tahun 1870, dari temuan stock ticker (pencatat harga saham dan emas) yang dijualnya seharga AS $ 40.000 ia punya cukup modal untuk pindah ke Newark, New Jersey. Kantor pusatnya di sebuah pabrik yang bisa menampung 150 pekerja. Di usia semuda itu, mantan operator telegrafi ini sudah menjadi bos dan industriawan. Pabriknya memproduksi stock ticker dan alat telegrafi lain. Tim intinya terdiri atas John Kruesi (ahli mesin) dan Charles Bachelor (ahli mekanik dan tukang gambar). Batchelor juga menjadi “telinga” bagi Edison untuk proyek-proyek yang membutuhkan daya dengar. Bila konsep telah dituangkan dalam bentuk gambar, maka Kruesi si ahli mesin membuat modelnya.
Rekanan bisnisnya berganti-ganti, ia juga terlibat dalam transaksi-transaksi rumit. Maklumlah, sebagai satu-satunya wahana telekomunikasi, industri telegrafi saat itu sangat kompetitif. Sebagai tenaga freelance, Edison tinggal mengadu mana penawaran yang tertinggi untuk temuannya. Pada masa itu beberapa temuannya yang sukses di pasar adalah pena listrik dan mimeograph, keduanya alat penting dalam industri mesinperkantoran masa itu yang belakangan juga menghasilkan temuan fonograf.
Di bawah dukungan Western Union Telegraph Company, market leader masa itu, dia juga mengadakan eksperimen sehingga ditemukan quadruplex, mesin telegraf yang mampu mengirim empat pesan secara simultan pada satu kabel. Namun, hasil temuan yang semestinya menjadi hak Western Union ini direbut oleh pesaing mereka yang berani membayar US $ 100.000 kepada Edison berupa uang tunai, surat berharga, dan saham! Harga yang menggiurkan bagi Edison, dengan akibat ia diperkarakan di pengadilan.
Sayangnya, Edison bukan pengelola uang yang cakap. Di usia 24 tahun, ia menikah dengan Mary Stillwell, salah seorang karyawatinya, yang baru berusia 16 tahun. Mary pun tak kalah borosnya dari Edison. Alhasil, menjelang 1875, keluarga mereka yang telah dikaruniai tiga orang anak, terjepit masalah keunangan. Untuk mengurangi biaya dan godaan pemborosan, Edison mengundang ayahnya untuk membangun laboratorium setinggi 2,5 tingkat berikut toko mesin di daerah pertanian Menlo Park, New Jersey juga. Jaraknya 12 mil dari Newark. Mereka pindah kesana Maret 1876, tentu disertai Kruesi dan Batchelor.
Namun, justru di Menlo Park Edison mengalami puncak kreativitas. Ketika bereksperimen untuk menemukan kabel bawah air bagi telegrafi automatis, ia menemukan bahwa tehanan listrik dan konduktivitas karbon bervariasi tergantung pada tekanan terhadap si karbon. Ini temuan teoritis yang besar. Berangkat dari sini, ia pun alat relay yang bekerja berdasarkan tekanan, bukan magnet yang umum saat itu, untuk memvariasikan dan menyeimbangkan arus listrik. Akhir 1877 ia berhasil menciptakan transmitter dengan tombol karbon yang sampai sekarang masih dipakai pada speaker dan mikrofon telepon.
Dituduh pakai suara perut
Temuannya yang paling orisinal ditemukan secara tak sengaja ketika sedang bereksperimen membuat mesin pengubah sinyal suara ke bentuk tulisan kode Morse. Fonograf yang diumumkan temuannya Desember 1877 itu diterima dengan heran dan heboh oleh masyarakat. Bahkan seorang ilmuwan dari Perancis berkomentar, fonograf itu tipuan dengan suara perut! Betapapun hebohnya, baru satu dasawarsa kemudian, Edison mampu mengembangkannya menjadi produk komersial.
Ada lagi percabangan dari eksperimen karbon, yang ternyata memberi hasil lebih spektakuler. Ketika itu para ilmuwan Amerika amat membutuhkan instrument dengan kepekaan tinggi untuk mengukur perubahan suhu pada panas yang dipancarkan corona matahari, saat gerhana matahari 29 Juli 1878. Edison menciptakan mikrotasimeter yang menggunakan tombol karbon dan ikut berkespedisi ke Rocky Mountains.
Masa itu lampu busur (arclihgting) sedang naik daun, tetapi mahal sekali dan tidak praktis. Di sela-sela kegiatan, mereka pun berandai-andai: kalau cahaya intens yang dihasilakan lampu busur itu bisa dipecah-pecah sehingga intensitasnya cukup kecil untuk ditarik manfaat praktis sebagai lampu biasa, wah! Masalahnya, bagaimana mencegah sumbu cahaya tidak menjadi terlalu panas, sehingga hancur dalam waktu singkat? Edison yakin dapat mengakalinya dengan menciptakan semacam mikrotasimeter, yang akan mengontrol banyaknya arus listrik yang akan masuk ke sumbu. Bahkan ia sesumbar, mampu menciptakan lampu listrik murah, menggantikan posisi lampu gas yang umum dipakai masa itu.
Sudah 50 tahun ilmuwan pusing memikirkan bagaimana menciptakan lampu pijar. Namun melihat prestasi yang sudah-sudah, masyarakat percaya juga pada sesumbar Edison. Tokoh-tokoh berduit yang ngiler membayangkan peluang bisnis temuan ini, tak ragu membentuk sindikasi yang menopang eksperimen Edison. Didirikanlah Edison Electric Light Company. Dana riset sebesar $ 30.000 langsung mengucur.
Kalau selama itu lampu pijar yang dikenal (termasuk lampu busur) selalu menggunkan bahan sumbu bertahanan rendah dengan sambungan seri (sehingga bila satu mati, semua lampu lain juga mati), Edison berteori, arus listrik yang besar bisa diperkecil dengan sambungan pararel dan menggunakan sumbu bertahanan tinggi. Maka ia harus mencari bahan sumbu yang tepat.
Untuk ini ia dibantu Francis Upton, pemuda berusia 26 tahun dengan gelar M.Sc, jurusan sains. Dari Upton inilah Edison pertama kali mengenal hukum Ohm (berkaitan dengan tahanan listrik). Setelah berbulan-bulan, terobosan dicapai di pertengahan Oktober 1879, saat ditemukan filamen karbonlah yang tepat.
Selalu berpikir positif
Untuk membuat lampu pijar, pertama-tama dibuat karbon dari seutas benang katun. Masing-masing ujung benangnya diikatkan pada kawat platina. Benda kemudian diletakkan di sebuah ceruk pada lempengan besi (sepatu kuda bekas), lalu ditutup lagi dengan sepatu kuda bekas yang lain. Kemudian dimasukkan ke dalam tungku untuk dipanaskan. Setelah hampir setengah hari, barulah benang katun berubah menjadi karbon. Karbon berbentuk melengkung seperti sepatu kuda itu, kemudian diambil dengan hati-hati sekali (karena amat gampang putus) untuk dimasukkan ke dalam bola kaca. Udara bola kaca kemudian dipompa keluar. Proses memompa ini berlangsung sampai tengah malam.
Setelah dua kali gagal karena pelbagai sebab, baru filamen ketiga berhasil dinyalakan. Peristiwa bersejarah itu terjadi pada dini hari pukul 01.30, 21 Oktober 1879. wajah-wajah kelelahan karena kurang tidur itu tercengang melihat betapa gemilang cahayanya. Tidak seperti pengalaman dengan bahan-bahan sebelumnya, lampu it uterus menyala sampai berjam-jam. Ada yang mengatakan sampai 13 jam lebih, tapi sumber lain mengatakan sampai 45 jam. Untuk sampai pada temuan ini, Edison berangkat dengan menyusun 3000 teori, yang setelah diuji diringkas menjadi 2 teori saja. Setelah mengerti filamen karbonlah yang terbaik, ia mengarbonisasi 6.000 jenis bahan untuk memilih yang terbaik.
Edison yang kala itu berusia 32 tahun, tidak berhenti pada menemukan, mematenkan dan memproduksi lampu listrik. Ia juga melengkapi temuannya dengan seluruh perangkat system yang diperlukan untuk memungkinkan penerangan itu: sakelar, dynamo dan alat-alat lain, termasuk generator pembangkit tenaga listrik. Dia bahkan merancang dan membangun system pusat pembangkit tenaga listrik yang pertama di dunia, Sepetember 1882. serentak pelbagai julukan dilontarkan dengan decak kekaguman : Edison Tukang Sulap, Edison Genius Hebat, Tukang Sihir dari Menlo Park.
Namun, 1884 kesuksesan tidak melepaskannya dari tragedi. Mary yang baru berusia 29 tahun meninggal karena sakit. Setahun menduda, Edison menikah lagi dengan Mina Miller, putrid seorang pengusaha kaya, yang baru berusia 29 tahun. Dari Mina Edison memperoleh tiag anak lagi.
Setelah menikah, Edison membeli tanah dengan lokasi indah di puncak bukit bagi keluarga barunya. Tanah di West Orange, N.J. ini dilengkapi dengan bangunan laboratorium yang luas dan megah. Di sana ia memproduksi fonograf secara komersial, dan mengawali industri film bioskpo dan baterai alkaline. Meski terus bekerja sampai di hari tuanya, masa puncak Edison sudah terlewati. Dengan pembawaannya yang acak-acakkan ia lebih cocok bekerja di lingkungan yang kecil dan akrab dibantu beberapa asistennya saja. Apalagi, waktunya tersita untuk mengurusi bisnis. Edison sang penemu kini lebih tepat disebut sebagai Edison sang industrialis.
Agustus 1931, Edison yang sudah renta sudah mulai menampakkan kemunduran fisik akibat keracunan uremik. Ia pingsan di ruang duduk rumahnya. Kondisinya yang kritis semakin memburuk sampai ia koma pada tanggal 14 Oktober. Para wartawan yang menanti di pekarangan akhirnya memperoleh tanda pada dini hari 18 Oktober, pukul 03.24, ketika seluruh penerangan di kamar tidur Edison di West Orange itu dinyalakan. Pencipta “terang” telah berpulang.
Sosok Edison sama sekali bertolak belakang dengan stereotipe ilmuwan yang asyik sendiri tak tahu dunia. Temuannya senantiasa diciptakan karena kebutuhan praktis. Kelemahannya dalam managemen justru menjadi kelebihan, karena ia dapat terjun ke suatu proyek demikian saja, tanpa banyak pikir. Buah hasil temuan biasanya segera dilupakan, sehingga pikirannya segera siap untuk ide segar lain. Kekuatan utamanya adalah sikap berpikir positif, Edison tidak pernah mempertanyakan, “Mungkinkah ini dubuat?” Tetapi yang ditanyakan “Bagaimana cara membuatnya?”
Kepribadiannya penuh warna, kadang mau menang sendiri dan seenaknya. Bagi karyawannya, ia teman yang menyenangkan sekaligus tirani, sehingga bekerja pada Edison tidak perbah membosankan. Edison adalah pribadi berkharisma, yang menyukai dan tahu manfaat publikasi. Ia demikian gila kerja sehingga “melupakan” keluarga. Sebagai orang lapangan yang dibesarkan oleh praktik, ia tak menyembunyikan cemoohannya pada ilmuwan teoritis. Namun ia sendiri sering mempekerjakan ahli-ahli fisika matematika terkenal. Maka lengkaplah atribut-atributnya sebagai sebuah legenda.
Kini, 119 tahun setelah lampu pijar pertama menyala di Menlo Park, dapatkah Anda membayangkan hidup tanpa penerangan dan tanpa tenaga listrik?.
Sumber : INTISARI edisi Oktober ’98 hal. 110-120.