Rabu, 27 Februari 2008

Kompas Dulu Tak Bisa Menunjuk Utara

Dilihat dari perkembangannya, kompas, si penunjuk arah, termasuk inovasi yang lambat dan sederhana. Artinya, dari dulu begitu-begitu saja. Masih tetap batang besi yang setia menunjuk arah utara-selatan. Toh hal itu tidak mengurangi jasa besarnya. Terlebih bagi pelaut, alat ini ibarat sebagian dari nyawa. Memang ada bintang yang bisa memandu, tapi kalo tertutup awan bagaimana?

Ada tiga kompas, yakni kompas yang bekerja berdasarkan prinsip magnet, giroskopik atau dengan mengacu pada bintang dan matahari. Jenis paling tua dan paling dikenal, ya kompas magnetik. Masih ingat dengan percobaan semasa SD? Berbekal baskom berisi air dan pisau silet, kita segera tahu arah mata angin. Kini kompas sudah makin kompak.

Seperti percobaan tadi “jabang bayi” kompas menurut Encyclopedia Britannica memang hanya sepotong besi magnet yang ditaruh di sebuah batang kayu yang mengapung di air. Cara itu dilakukan para pelaut Cina dan Eropa pada abad ke-12. Bila tahu arah utara, tntu arah lainnya mudah ditangkap. Kompas bisa menunjuk arah utara-selatan, karena Bumi merupakan batang magnet yang sangat besar. Hal itu diketahui bahwa sepotong besi atau jarum besi yang disentuhkan pada batu magnet selama beberapa lama ternyata cenderung menunjuk arah utara-selatan.

Berabad-abad kemudian, sejumlah perbaikan teknis dilakukan dalam kompas magnet. Kebanyakan dipelopori oleh Inggris yang kala itu ibarat bersemboyan jalesveva jalamahe. Sampai abad ke-13, ujud kompas cuma berupa jarum yang ditempelkan pada sebuah peniti yang disangga sebuah “paku” tegak di dalam mangkuk kompas. Awalnya, mangkuk hanya bertandakan arah utara dan selatan. Namun, kemudian berkembang menjadi 30 titik penting di sekeliling mangkuk. Sebuah kartu dengan titik arah, tercetak di atasnya ditempelkan tepat di bawah jarum sehingga kita dapat melihat arah dari atas kartu. Pada abad ke-17 bentuk jarum berubahmenjadi jajaran genjang seperti yang kini kita kenal. Jarum itu memang lebih mudah disangga.

Pada abad ke-15 orang baru sadar bahwa ujung kompas tidak tepat meunjuk Kutub Utara Bumi, tetapi agak bergeser. Di Eropa, misalnya, jarum kompas bergeser sedikit ke timur dari utara yang sebenarnya. Namun, arah itu tidak permanen.

Tahun 1745 Gowin Knight, penemu asal Inggris, mengembangkan metode yang lama mempertahankan sifat kemagnetan logam. Ia juga memperbaiki bentuk jarum menjadi batang cukup besar sehingga dapat dipasang di atas poros. Komps pengembangannya itu – dikenal sebagai kompas Knight – cukup banyak dipakai kala itu.

Kompas awal waktu itu belum berisi air sehingga dikenla dengan kompas-kartu kering. Kompas model ini pembacaannya dapat terganggu akibat guncangan ataupun getaran.

Pada 1862 ditemukan kompas cair pertama dari sebuah pengapung pada kartu yang bisa menyeimbangkan berat pada tuas. Sebuah system dikembangkan untuk mencegah kebocoran. Dengan perbaikan kompas cair tadi, maka tamatlah peran kompas kering pada akhir abad ke-19.

Para pelaut modern menggunkan kompas yang biasanya ditaruh di rumah kompas, tabung silinder dengan perlengkapan tambahan untuk memperjelas pembacaan kompas. Pada pesawat terbang ditambah dengan mekanisme koreksi jika kompas magnet melakukan kesalahan ketika pesawat tiba-tiba berubah arah. Karena alat koreksi itu gyroscope, kompas jenis itupun disebut kompas gyromagnetic.

Gyroscope juga digunakan pada jenis kompas non magnetik, dikenla sebagai gyrocompass. Kompsa ini biasa dipakai dalam system navigasi karena bisa diatur untuk menunjuk arah utara sebenarnya, bukan arah utara magnet. (Yds)

Sumber : INTISARI edisi November 2002 hal. 64-65

0 komentar: