Rabu, 27 Februari 2008

Langkah Sepele Menekan Polusi

Suka atau tidak, polusi sudah menjadi bagian hidup kita. Sayangnya, tidak jarang kita masih acuh tak acuh terhadap polusi, meskipun dampak negatifnya sangat besar. Elain dapat mengakibatkan penurunan kualitas hidup manusia, polusi juga mempercepat berkurangnya usia Bumi.

Bisakah kita mengurangi polusi? Pertanyaan itu acap kali membuat kita pesimis, sehingga cenderung “alergi”. Maklum, untuk menekan atau mengurangi polusi diperlukan teknologi canggih, yang sering juga berarti modal besar. Kalaupun tidak menerapkan teknologi canggih, kita mesti rela berkorban.

Semisal, terbesit niat ingin berjalan kaki dari rumah menuju kantor, puasa naik kendaraan, demi mengurangi polusi udara. Pengirbanan ini tentu tidak sepadan dengan hsail yang akan dipetik. Boleh jadi kita akan terlambat tiba di kantor. Kalaupun tepat waktu, maka tenaga kita sudah terkuras dan pikiran tak lagi sanggup berkonsentrasi pada pekerjaan. Boleh jadi bos akan mendamprat atau mem-PHK kita karena diangap telah lalai. Atau, dalam benak terlintas untuk membeli mobil listrik atau mobil ramah lingkungan. Namun, mobil-mobil jenis ini harganya masih selangit.

Pertimbangan tersebut mungkin membuat kita kian pesimis untuk bisa ikut berupaya mengurangi polusi tanpa pengorbanan yang besar. Padahal sebenarnya tanpa teknologi canggih ataupun pengorbanan besar pun polusi dapat dikurangi. Karena kita bisa menekan polusi melalui hal-hal “sepele”.

Berikut ini strategi sederhana dan sangat “sepele” untuk mengurangi polusi, yang sangat besar manfaatnya.

  • Membiasakan diri memisahkan sampah plastik dan sampah organik. Sampah plastik memerlukan waktu puluhan hingga ratusan tahun untuk dapat diuraikan oleh alam, sedangkan sampah organik hanya dalam hitungan bulan sudah bisa terurai. Artinya, sampah plastik lebih baik dan berguna jika didaur ulang daripada dibuang. Oleh karena itu, pisahkanlah sampah plastik.
  • Peralatan yang memanfaatkan gas-gas bersifat racun bagi udara, seperti AC, kulkas,dll., lebih baik dipakai seperlunya saja.
  • Biasakan menggunakan korek gas daripada korek api kayu. Korek gas cenderung lebih awet ketimbang korek api kayu. Lagipula, tanpa disadari, dengan menyalakan korek api kayu kita telah membebaskan karbon ke udra bebas.
  • Biasakan mematikan puntung rokok sehabis merokok. Hindarkan membuang puntung rokok dalam keadaan hidup. Karena puntung rokok yang terbakar akan membebaskan karbon dan juga gas beracun yang terkandung di dalam rokok ke udara.
  • Mengurangi atau menghentikan sama sekali kebiasaan merokok.
  • Tumbuhkan hobi bertanam pohon/tanaman. Manfaat pohon/tanaman tidak sekedar sebagai penghias, penyejuk halaman, atau penghasil buah. Dengan menanam sebatang pohon, kita telah turut mengurangi sejumlah karbon bergentanyangan di udara. Berdasarkan penelitian, justru tanaman baru tumbuh dan berkembang mempunyai kemampuan menyerap karbon dari udara lebih banyak daripada pohon yang lebih tua.

Strategi di atas kelihatannya sepele. Berapa milligram sih yang dihasilkan dari sebatang korek, atau sebatang rokok sehingga mampu menekan polusi? Akan tetapi, coba bayangkan kalau langkah-langkah ini dilakukan tiap hari oleh semiliar orang di seluruh dunia, berapa ton karbon dapat dicegah beterbangan di udara bebas pertahunnya? Padahal jika jumlah karbon yang beredar di udara bebas melebihi ambang batas, akan timbul pemanasan global yang disebut sebagai efek rumah kaca. Begitu pula tindakan mematikan puntung rokok dapat mencegah timbulnya kebakaran yang dapat dipastikan akan menyebar banyak karbon ke udara. Dampak positif lain dari strategi “sepele” ini, kita belajar berdisiplin dengan meninggalkan kebiasaan buruk.

Dengan strategi “sepele” kita dapat mengurangi polusi, tanpa perlu menunggu teknologi canggih. (Yurianto, S.Hut., di Jimbaran, Bali)

Sumber : INTISARI edisi November 2002 hal. 122-123

Superbug

Ini masalah laten yg berulang-ulang dibicarakan dan sesering itu pula dilupakan. Beberapa tahun mendatang, kita bakal diserang oleh makhluk-makhluk super yang sulit ditaklukkan. Mereka buka monster luar angkasa tapi bakteri yang saat ini bisa kita basmi.

Beberapa tahun lagi, mereka berubah menjadi bakteri super (superbug) gara-gara penggunaan antibiotic secara serampangan saat ini. Misalnya, flu atau batuk tanpa infeksi bakteri langsung dihantam dengan antibiotik. Bahkan secara sembrono antibiotik juga dipakai di peternakan-peternakan. Penelitian menemukan antibiotik di 85% daging ayam potong di Jakarta.

Meski tak secerdas manusia, bakteri makhluk pintar. Mereka bisa belajar mempertahankan diri. Sementara, antibiotik adalah senjata kimia rahasia. Jika dipakai tanpa indikasi, rahasianya bakal dicuri oleh kuman-kuman, sehingga mereka bisa memproduksi enzim penghancurnya.

Biasanya, bakteri super ini bermarkas di rumah-rumah sakit tempat antibiotik kelas berat beraksi. Namun, kuman-kuman ini juga bisa muncul di kamar tidur kita jika pemakaian antibiotik tetap tak terkendali seperti sekarang ini.

Untuk menangkal masalah ini, Indonesia Antimicrobial Resistance Watch (IARW) menganjurkan masyarakat agar berhati-hati menggunakan antibiotik. Cara praktisnya, sebisa mungkin cegah terjadinya infeksi dengan menerapkan pola hidup bersih. Jangan minum antibiotik secara ngawur kecuali atas resep dokter.

Jangan gunakan antibiotik untuk melawan penyakit yang bukan akibat infeksi bakteri. Sebab, semakin sering kita minum antibiotik, semakin mudah kita terinfeksi. Juga, jangan sembarang minum antibiotik yang diresepkan untuk orang lain sebab belum tentu sesuai. Hanya dengan cara ini kita boleh berharap, superbug tak menjadi ancaman. (Emshol)

Sumber : INTISARI edisi SEPTEMBER 2005 hal 186-187

Kompas Dulu Tak Bisa Menunjuk Utara

Dilihat dari perkembangannya, kompas, si penunjuk arah, termasuk inovasi yang lambat dan sederhana. Artinya, dari dulu begitu-begitu saja. Masih tetap batang besi yang setia menunjuk arah utara-selatan. Toh hal itu tidak mengurangi jasa besarnya. Terlebih bagi pelaut, alat ini ibarat sebagian dari nyawa. Memang ada bintang yang bisa memandu, tapi kalo tertutup awan bagaimana?

Ada tiga kompas, yakni kompas yang bekerja berdasarkan prinsip magnet, giroskopik atau dengan mengacu pada bintang dan matahari. Jenis paling tua dan paling dikenal, ya kompas magnetik. Masih ingat dengan percobaan semasa SD? Berbekal baskom berisi air dan pisau silet, kita segera tahu arah mata angin. Kini kompas sudah makin kompak.

Seperti percobaan tadi “jabang bayi” kompas menurut Encyclopedia Britannica memang hanya sepotong besi magnet yang ditaruh di sebuah batang kayu yang mengapung di air. Cara itu dilakukan para pelaut Cina dan Eropa pada abad ke-12. Bila tahu arah utara, tntu arah lainnya mudah ditangkap. Kompas bisa menunjuk arah utara-selatan, karena Bumi merupakan batang magnet yang sangat besar. Hal itu diketahui bahwa sepotong besi atau jarum besi yang disentuhkan pada batu magnet selama beberapa lama ternyata cenderung menunjuk arah utara-selatan.

Berabad-abad kemudian, sejumlah perbaikan teknis dilakukan dalam kompas magnet. Kebanyakan dipelopori oleh Inggris yang kala itu ibarat bersemboyan jalesveva jalamahe. Sampai abad ke-13, ujud kompas cuma berupa jarum yang ditempelkan pada sebuah peniti yang disangga sebuah “paku” tegak di dalam mangkuk kompas. Awalnya, mangkuk hanya bertandakan arah utara dan selatan. Namun, kemudian berkembang menjadi 30 titik penting di sekeliling mangkuk. Sebuah kartu dengan titik arah, tercetak di atasnya ditempelkan tepat di bawah jarum sehingga kita dapat melihat arah dari atas kartu. Pada abad ke-17 bentuk jarum berubahmenjadi jajaran genjang seperti yang kini kita kenal. Jarum itu memang lebih mudah disangga.

Pada abad ke-15 orang baru sadar bahwa ujung kompas tidak tepat meunjuk Kutub Utara Bumi, tetapi agak bergeser. Di Eropa, misalnya, jarum kompas bergeser sedikit ke timur dari utara yang sebenarnya. Namun, arah itu tidak permanen.

Tahun 1745 Gowin Knight, penemu asal Inggris, mengembangkan metode yang lama mempertahankan sifat kemagnetan logam. Ia juga memperbaiki bentuk jarum menjadi batang cukup besar sehingga dapat dipasang di atas poros. Komps pengembangannya itu – dikenal sebagai kompas Knight – cukup banyak dipakai kala itu.

Kompas awal waktu itu belum berisi air sehingga dikenla dengan kompas-kartu kering. Kompas model ini pembacaannya dapat terganggu akibat guncangan ataupun getaran.

Pada 1862 ditemukan kompas cair pertama dari sebuah pengapung pada kartu yang bisa menyeimbangkan berat pada tuas. Sebuah system dikembangkan untuk mencegah kebocoran. Dengan perbaikan kompas cair tadi, maka tamatlah peran kompas kering pada akhir abad ke-19.

Para pelaut modern menggunkan kompas yang biasanya ditaruh di rumah kompas, tabung silinder dengan perlengkapan tambahan untuk memperjelas pembacaan kompas. Pada pesawat terbang ditambah dengan mekanisme koreksi jika kompas magnet melakukan kesalahan ketika pesawat tiba-tiba berubah arah. Karena alat koreksi itu gyroscope, kompas jenis itupun disebut kompas gyromagnetic.

Gyroscope juga digunakan pada jenis kompas non magnetik, dikenla sebagai gyrocompass. Kompsa ini biasa dipakai dalam system navigasi karena bisa diatur untuk menunjuk arah utara sebenarnya, bukan arah utara magnet. (Yds)

Sumber : INTISARI edisi November 2002 hal. 64-65

Serpihan Tubuh Bicara Banyak

Menentukan identitas jenasah terkadang tidak muda. Kalau tubuhnya utuh, masih dapat diungkap lewat dua dari sembilan metode identifikasi. Kesembilan metode itu ialah pemeriksaan secara visual, lewat dokumen atau surat, dari perhiasan, pakaian, data pemeriksaan medis, serologi, pemeriksaan gigi dan odontologi, sidik jari dan pemeriksaan berdasarkan prinsip ekslusi. Pada jasad yang masih dapat dikenali dengan metode identifikasi lain, pemeriksaan medis DNA dilakukan hanya untuk lebih memastikan.

Menurut dr. Djaja Atmadja, Sp.F., Ph.D., spesialis forensik dari Bagian Forensik RSCM, Jakarta, dalam kasus tubuh hancur, apalagi hangus terbakar, pemeriksaan DNA menjadi sangat berperan. Untuk kasus ledakan di Bali, 12 Oktober 2002 lalu, yang korbannya ratusan dan berasal dari berbagai Negara, pemeriksaan DNA dilakukan secara bertahap.

Pertama, semua potongan tubuh dikumpulkan. Setiap bagian diperiksa menggunakan polymerase chain reaction (PCR) untuk memperbanyak potongan DNA sampel. Lalu, masing-masing potongan hasilnya dibandingkan dengan potongan tubuh lain. Kalo pola DNA nya mirip, kemungkinan berasal dari tubuh satu orang.

Selanjutnya, dilakukan pemeriksaan DNA untuk menentukan jenis kelamin dengan teknik gen amilogenin. Dengan mengetahui apakah korban laki-laki atau perempuan, kemungkinan identitas korban dipersempit menjadi 50%.

Tahap terakhir, pemeriksaan DNA untuk menentukan identitas korban berdasarkan pola DNA keluarganya. Misalnya pola DNA dari potongan tubuh itu lalu dibandingkan dengan pola DNA ayah dan ibu, kalo korban diduga anak mereka.

Dengan “melihat” DNA, setiap individu dapat dibedakan dari orang lain, yang masih hidup atau sudah mati. Namun, teknik ini tidak berlaku pada orang kembar identik, karena mereka memiliki DNA yang persis sama.

DNA dapat diperoleh dari darah, sperma, air liur, tulang, gigi, atau sepotong daging, kulit, atau jaringan lain yang sangat kecil. Puntung rokok yang dibuang di tempat kejadian bisa mengandung DNA dari air liur dan cukup untuk bisa dianalisis. Begitu pula dengan prangko yang dijilat. Sehelai rambut yang ada akarnya juga dapat memberikan cukup informasi tentang si empunya DNA.

DNA manusia terdiri atas kelompok besar DNA yang separuh berasal dari ibu dan sepruh lagi berasal dari ayah. Maka, sifat anak umumnya merupakan gabungan sifat kedua orang tuanya, sesuai dengan hukum Mendel. Akibat lain, ada kesamaan pola DNA antarsaudara kandung. Kaitan pola DNA antara anak dan orang tua atau antarsaudara kandung inilah yang menjadi dasar pemeriksaan DNA untuk mengungkap jati diri seseorang.

Karena setiap sel manusia berasal dari satu sel, pola DNA setiap sel dari semua bagian tubuh pun akan sama. Jadi, dengan pemeriksaan DNA segala macam sel atau jaringan mana pun pada satu orang akan memberikan pola yang sama pula. Adanya DNA ini menguntungkan, karena pada banyak kasus forensik, bahan (bagian tubuh) yang diperoleh sering terbatas jenis dan jumlahnya.

Apalagi DNA lebih stabil daripada protein, sehingga masih dapat diperiksa, misalnya setelah protein lain di tubuh berubah atau hancur, sehingga tidak dapat diperiksa dengan metode lain. Makanya pemeriksaan DNA menjadi alternative utama dalam kasus mayat yang sudah membusuk lanjut, tinggal tulang-belulang, gigi, rambut, atau hanya bercak yang sudah bertahun-tahun.

Yang lebih menarik lebih dari 99% DNA dari dua orang persis sama. Jadi, secara genetic, setiap manusia hanya 1% berbeda satu sama lain. Untuk menemukan perbedaan yang 1% itu biayanya terlalu mahal. Karena itu, para ilmuwan mengembangkan metode-metode yang lebih efisien. Metode yang dikembangkan itu berdasarkan karakter DNA yang umumnya berbeda antarindividu.

Entah mengapa, ada bagian DNA manusia yang terbuat dari deretan pendek DNA berulang beberapa kali. Daerah DNA berulang itu dinamai DNA satelit. Pada contoh, sekuens “GAAT” diulang sebanyak enam kali.

AGTATCTAGCGGAATGAATGAATGAATGAATGAATATCGAGCGATCTCGT

Jumlah pengulangan itu berbeda antar individu. Banyak orang memilki enam kali perulangan (seperti pada contoh). Tetapi banyak juga yang DNA satelitnya tersebar di berbagai kromosom. Kemungkinan bahwa dua orang memiliki jumlah pengulangan yang sama di semua DNA satelit sangatlah kecil, yaitu satu berbanding 1024.

Pemeriksaan DAN dalam bidang forensic dimulai ketika pada 1984 Prof. Alec Jeffreys, FRS, peneliti tanu Institut Lister di Universitas Leicester, Inggris, secara kebetulan menemukan bahwa dalam molekul DNA ada sekuens tertentu berisi imformasi yang membedakan satu individu dari yang lain. Sekuens ini dapat divisualisasi di lab dalam bentuk film sinar X. Karena khas untuk setiap individu seperti sidik jari, penemuan ini disebut sebagai sidik DNA (DNA fingerprinting).

Meski sidik DNA ala Jeffreys paling tepat untuk diidentifikasi, cara ini kurang disukai, karena memerlukan bahan yang relatif banyak dan segar, selain prosedurnya rumit dan lama. Belakangan, banyak pelacak baru yang bisa mendeteksi daerah “khas” lain di DNA. Dikatakan “khas”, karena di daerah itu ada pengulangan basa DNA.

Teknik pemeriksaan DNA terus dikembangkan. Selain biaya pemeriksaan satu sampel masih mahal, prosesnya makan waktu alam hitungan jam, bahkan hari. Lagi pula tak jarang DNA di tempat kejadian telah terpotong-potong sangat pendek. Untunglah kini sudah ada teknik yang dapat menganalisis potongan DNA yang daerah “khas” –nya sangat pendek. Cara inilah yang digunakan dalam mengungkap identitas korban ledakan di Bali.

Teknologi DNA untuk identifikasi semakin menjanjikan. Di masa depan, chip seukuran kartu kredit dapat digunakan para penyidik untuk mengolah sampel DNA langsung di tempat kejadian, dan hasilnya langsung tampak dalam 10 menit. “Lab dalam chip” ini hanya memerlukan sepersejuta dari jumlah DNA yang digunakan dalam teknologi masa kini.

Tak lama lagi seluruh proses analisis cukup dilakukan oleh perangkat sebesar tas kerja standar yang dapat di bawa-bawa. Dengan alat itu, proses memotong, memperbanyak, mengenali, dan menganalisis DNA dapat dilakukan di mana pun dan dalam waktu yang lebih cepat. (Beatricia Iswari S)

Sumber : INTISARI edisi NOVEMBER 2002 hal. 56-57